Custom Search

Rabu, 30 April 2008

YANG MUDA YANG MEMIMPIN

Pada tanggal 22 April 2008, Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jabar secara resmi mengumumkan hasil Pilkada Jabar yang dilakukan pada tanggal 13 April 2008. Hasilnya adalah pasangan HADE (Ahmad Heryawan-Dede Yusuf) terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar mengalahkan pasangan AMAN (Agum Gumelar-Nu’man Abdul Hakim) dan pasangan DAI (Danny Setiawan-Iwan R. Sulandjana). Kemenangan yang mengagumkan, karena pasangan AMAN dan pasangan DAI merupakan para tokoh senior yang dimiliki Jabar. Pasangan AMAN adalah kombinasi dari purnawirawan Jenderal AD bintang empat dengan Wagub Jabar incumbent yang didukung oleh koalisi 7 partai besar dan kecil. Pasangan DAI adalah kombinasi dari Gubernur Jabar incumbent dengan purnawirawan Jenderal AD bintang dua yang didukung oleh Partai Golkar dan Partai Demokrat. Pasangan HADE merupakan kombinasi pasangan anak muda (sama-sama berusia 42 tahun) yang merupakan kader dari PKS dan PAN.

Dalam konteks kebangkitan kaum muda tentunya fenomena ini merupakan sesuatu yang positif. Kaum muda ternyata mampu terpilih sebagai kepala daerah secara prosedural dan konstitusional. Dalam percaturan politik, kaum muda tentunya diharapkan sebagai generasi “segar” yang enerjik, kreatif, dan bisa bekerja tanpa beban karena bebas dari “sejarah politik” masa lalu Yang menarik, kemenangan pasangan HADE ini adalah kemenangan yang INSPIRATIF. Di saat Pilkada yang serentak akan dilaksanakan di berbagai daerah lainnya di Indonesia, kemenangan pasangan HADE telah menginspirasi dan memotivasi kaum muda untuk maju ke bursa pencalonan pemimpin terutama di daerah tingkat II. Bahkan di beberapa kota walaupun baru sebatas konvensi di intern partai, ada beberapa calon muda yang usianya masih di bawah umur 30 tahun.

Tentunya bagi kaum muda untuk menjadi seorang pemimpin apalagi sekelas kepala daerah baik di tingkat I maupun tingkat II tidak hanya cukup sekedar bermodalkan keinginan saja. Bagaimanapun jabatan tersebut adalah amanah untuk memimpin rakyat yang mau tidak mau dibutuhkan kompetensi dan kapasitas untuk memikul jabatan tersebut. Walaupun program kerja kepala daerah nantinya akan didukung oleh jajaran birokrat bawahannya tentunya sang pemimpin juga harus mumpuni dalam bekerja. Ditambah lagi tentunya seorang kepala daerah harus mampu menjalin komunikasi yang baik dengan unsur politisi dalam hal ini DPRD agar tercipta suasana yang kondusif antara eksekutif dengan legislatif.

Mengingat beratnya tugas dan tanggung jawab kepala daerah yang nanti akan bermuara pada nasib rakyat, maka untuk para calon kepala daerah khususnya yang berasal dari kaum muda hendaknya mempertimbangkan kembali faktor kompetensi dan kapasitas diri. Kaum muda harus bangkit tapi tentunya harus bangkit dengan membawa kompetensi dan kapasitas yang unggul, yang mampu mengemban amanah rakyat. Tentunya aktualisasi diri kaum muda untuk memajukan negeri ini tidak hanya terbatas di dunia politik saja, tetapi bisa juga di bidang lain seperti dunia usaha, seni, budaya, ataupun pendidikan.

Seorang Soekarno menjadi presiden pertama Republik Indonesia ketika usianya dibawah 50 tahun. Seorang Soeharto pun memimpin negeri ini ketika usianya di bawah 50 tahun. Terlepas dari sisi positif maupun negatif dari masa pemerintahan mereka, namun sejarah membuktikan mereka telah berkontribusi besar terhadap perjalanan negeri ini. Dan sejarah pun telah mencatat bahwa kedua tokoh ini sebelum menjadi presiden telah melalui berbagai macam proses yang mengasah kapasitas dan kompetensinya. Bahkan dalam skup yang lebih kecil, pasangan HADE pun sebelum sebelum memenangkan Pilkada Jabar pun telah berproses di partai politik. Pelajaran terpenting bagi kaum muda masa kini adalah bagaimana sebelum menjadi pemimpin mereka harus berproses untuk mengasah kapasitas dan kompetensinya.

ASET DAN LIABILITAS

Terkadang kita sering mendengar ataupun menyaksikan langsung seseorang yang pada produktifnya “cukup” secara finansial namun menjelang hari tuanya dibelit berbagai kesulitan finansial. Padahal pada masa produktifnya orang tersebut terkenal sering gonta-ganti mobil, mempunyai motor gede (moge), sering gonta-ganti handphone, dan mempunyai produk-produk elektronik yang branded di rumahnya. Sekilas tampaknya orang tersebut tampak mempunyai banyak aset. Lantas sebenarnya dimana letak kekurang tepatan orang tersebut sehingga ketika usianya sudah tidak produktif dirinya dibelit berbagai kesulitan finansial?

Robert T. Kiyosaki memberikan pelajaran terpenting untuk secara tegas memisahkan antara aset dengan liabilitas. Sekilas mungkin barang-barang seperti kendaraan pribadi, produk elektronik, ataupun rumah pribadi tampak seperti aset kekayaan. Kiyosaki justru berpendapat bahwa sebenarnya walaupun rumah dan mobil pribadi secara accounting tercatat sebagai aset namun dua hal tersebut menguras sekian puluh persen dari pendapatan bulanan kita. Menurutnya yang dimaksud dengan aset adalah harta kekayaan yang memberikan aliran kas positif secara rutin. Contoh dari aset yang menunjang cash flow adalah rumah yang disewakan, mobil yang disewakan, dana yang diinvestasikan, dan royalti rutin dari karya cipta.

Memiliki liabilitas seperti rumah pribadi, mobil pribadi, dan barang-barang elektronik tentunya adalah hal yang manusiawi bagi seseorang yang berpenghasilan cukup, apalagi jika dikaitkan dengan dengan konteks menikmati hidup ataupun menikmati hasil jerih payah. Teori Kiyosaki tentang aset dan liabilitas tidak bisa ditelan bulat-bulat, apalagi jika atas nama aset kita sampai menjadi orang yang pelit ataupun tidak menikmati hidup. Namun alangkah lebih bijaknya pula apabila kita mempersiapkan masa depan selagi kita masih produktif. Salah satu strategi untuk menikmati hidup tetapi tidak melupakan aset yaitu bagaimana kita membangun aset yang hasil/keuntungannya dapat kita sisihkan sisihkan untuk memiliki liabilitas.


WARALABA (FRANCHISE)

Di saat sedang menjamur bisnis waralaba (franchise), berikut ini adalah beberapa saran yang bisa anda pertimbangkan ketika mencoba berbisnis dengan cara membeli waralaba (franchise) sebuah brand :
  1. Kekuatan Brand dan Prospek Usaha

Kekuatan brand merupakan faktor terpenting yang harus dipertimbangkan ketika Anda memutuskan membeli waralaba. Contohnya pada bisnis makanan, tidak semua bisnis makanan yang sukses ataupun terkenal di tempat/lokasi asalnya dijamin akan sukses pula bila dikembangkan di tempat/lokasi lain. Tanpa perlu menyebut nama, banyak beberapa brand yang sukses di tempat/lokasi asalnya gagal meraih kesuksesan ketika diwaralabakan di tempat/lokasi lain.

Salah satu tolak ukur dari kekuatan brand, adalah brand tersebut sudah dikembangkan di beberapa tempat/lokasi dan cabang-cabangnya meraih kesuksesan. Namun yang patut dicermati adalah, apakah cabang-cabang yang sukses tersebut berada di dalam satu wilayah kota ataupun propinsi lokasi asal brand tersebut. Hal ini menjadi penting apabila Anda ingin membeli waralaba untuk dikembangkan di kota atau propinsi lain, karena masing-masing kota atau propinsi memiliki karakteristik pasar yang berbeda. Ditambah lagi apabila sudah ada beberapa brand lokal dengan bidang usaha sejenis yang sudah mapan pangsa pasarnya, tentunya hal ini harus dipertimbangkan dalam prospek usaha.

  1. Sistem

Brand yang baik tentunya memiliki sistem yang baik dalam cara pengelolaan bisnisnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain seperti sistem pengadaan jasa/barang, sistem pelayanan, sistem administrasi dan keuangan, dan sistem personalia dan sistem pemasaran.

Penting juga bagi kita untuk memilih brand yang memiliki sistem kerjasama yang memungkinkan kita untuk mengembangkan peran dalam bisnis tersebut. Ada beberapa brand yang dalam kerjasama waralabanya mengkondisikan sang pembeli waralaba tidak mempunyai peran apa-apa dalam pengelolaan bisnis tersebut. Bahkan Hal ini harus dipikirkan kembali bagi Anda yang ingin mengembangkan diri dalam dunia bisnis.

Klausul-klausul dalam perjanjian waralaba pun harus Anda perhatikan, pola pembagian keuntungan, lama kerjasama, dan kemungkinan perpanjangan kerjasama apabila bisnis tersebut dipandang menguntungkan namun masa kerjasamanya telah berakhir.


MAU KAYA NGAPAIN SEKOLAH ?

Mau kaya ngapain sekolah?

Kalimat di atas terdengar lumayan sensasional, agak provokatif, sekaligus melawan arus. Yang kita tahu sejak dahulu kalau kita ingin kaya maka kita harus pintar, dan untuk menjadi pintar kita harus bersekolah setinggi mungkin. Teori-teori yang berkembang di masyarakat pun selalu mengatakan bahwa kemiskinan hanya bisa diberantas dengan memerangi kebodohan, dan kebodohan dapat dihilangkan dengan cara bersekolah. Lantas salahkah apabila sebagian pengusaha sukses mengatakan “Mau kaya ngapain sekolah?”

Tentunya pernyataan “Mau kaya ngapain sekolah?” ini harus kita sikapi dengan seobjektif mungkin. Jika ditelusuri lebih jauh ternyata banyak pengusaha yang termasuk kategori “berhasil” tetapi ketika memulai usahanya mereka tidak menyelesaikan bangku kuliahnya. Di Indonesia contoh dari mereka yaitu pengusaha seperti Marius Widyarto Wiwied (C59), Purdie E. Chandra (Primagama), Sony Sugema (SSC), dan lain-lain. Tetapi ada juga orang yang menyelesaikan bangku kuliahnya dan berhasil menjadi pengusaha sukses seperti Chairul Tanjung (Para Group), Harry Tanusudibyo (MNC Group), Arifin Panigoro (Medco Group), Aburizal Bakrie (Bakrie Group), dll.

Konon ada anggapan yang mengatakan bahwa semakin seseorang banyak mengetahui sesuatu maka orang tersebut akan semakin banyak pertimbangan untuk memulai sesuatu. Sebaliknya seseorang yang yang tidak banyak mengetahui sesuatu karena ketidaktahuannya tersebut maka maka orang tersebut tidak akan terlalu banyak pertimbangan untuk memulai sesuatu. Dan orang yang melakukan sesuatu mempunyai dua peluang, yaitu berhasil atau gagal. Sedangkan orang yang tidak melakukan sesuatu tidak mempunyai peluang apapun entah itu berhasil ataupun gagal. Anggapan-anggapan tersebut jika direnungkan bisa jadi benar adanya, namun yang harus dipikirkan idealnya adalah bagaimana menjadi seseorang yang banyak mengetahui tetapi berani memulai sesuatu. Ibarat memasuki rimba yang ganas tentunya lebih amannya apabila kita sudah mempersiapkan diri sebelumnya.

Apakah seseorang yang banyak mengetahui (berilmu) mutlak adalah orang yang bersekolah tinggi secara formal? Jawabannya tentu bisa ya, bisa juga tidak. Ilmu adalah sesuatu yang didapat dari lembaga pendidikan formal (sekolah) dan bisa juga didapat dari proses belajar ataupun pengalaman yang tidak didapatkan di bangku sekolah.

Untuk menjadi pengusaha sukses (baca : kaya) kita tidak harus terjebak dalam pemikiran antara berpendidikan tinggi ataupun berpendidikan rendah secara formal. Sukses adalah hak setiap orang apapun latar belakang pendidikan formalnya. Bisa jadi pendidikan formal tidak tinggi yang dimiliki oleh sebagian pengusaha sukses diakibatkan oleh situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan. Namun tampaknya keterbatasan itulah yang menjadi motivasi bagi mereka untuk terus maju. Sedangkan sebagian pengusaha sukses yang berpendidikan tinggi bisa jadi kesuksesan mereka didukung oleh disiplin ilmu ataupun pola pikir hasil mengenyam bangku pendidikan tinggi. Bagian terpenting lainnya untuk menjadi pengusaha sukses adalah proses pembelajaran terus-menerus dari kehidupan ini yang harus diaplikasikan dalam bentuk keberanian mengambil keputusan, kerjasama dan interaksi sosial yang berkualitas, kreatif, berpengetahuan, dan peka terhadap perubahan.

Lantas apakah kalau mau kaya kita harus sekolah ? Jawabannya tentu adalah sekolah OK, tidak sekolah pun SIAPA TAKUT !!!.