Dalam konteks kebangkitan kaum muda tentunya fenomena ini merupakan sesuatu yang positif. Kaum muda ternyata mampu terpilih sebagai kepala daerah secara prosedural dan konstitusional. Dalam percaturan politik, kaum muda tentunya diharapkan sebagai generasi “segar” yang enerjik, kreatif, dan bisa bekerja tanpa beban karena bebas dari “sejarah politik” masa lalu Yang menarik, kemenangan pasangan HADE ini adalah kemenangan yang INSPIRATIF. Di saat Pilkada yang serentak akan dilaksanakan di berbagai daerah lainnya di Indonesia, kemenangan pasangan HADE telah menginspirasi dan memotivasi kaum muda untuk maju ke bursa pencalonan pemimpin terutama di daerah tingkat II. Bahkan di beberapa kota walaupun baru sebatas konvensi di intern partai, ada beberapa calon muda yang usianya masih di bawah umur 30 tahun.
Tentunya bagi kaum muda untuk menjadi seorang pemimpin apalagi sekelas kepala daerah baik di tingkat I maupun tingkat II tidak hanya cukup sekedar bermodalkan keinginan saja. Bagaimanapun jabatan tersebut adalah amanah untuk memimpin rakyat yang mau tidak mau dibutuhkan kompetensi dan kapasitas untuk memikul jabatan tersebut. Walaupun program kerja kepala daerah nantinya akan didukung oleh jajaran birokrat bawahannya tentunya sang pemimpin juga harus mumpuni dalam bekerja. Ditambah lagi tentunya seorang kepala daerah harus mampu menjalin komunikasi yang baik dengan unsur politisi dalam hal ini DPRD agar tercipta suasana yang kondusif antara eksekutif dengan legislatif.
Mengingat beratnya tugas dan tanggung jawab kepala daerah yang nanti akan bermuara pada nasib rakyat, maka untuk para calon kepala daerah khususnya yang berasal dari kaum muda hendaknya mempertimbangkan kembali faktor kompetensi dan kapasitas diri. Kaum muda harus bangkit tapi tentunya harus bangkit dengan membawa kompetensi dan kapasitas yang unggul, yang mampu mengemban amanah rakyat. Tentunya aktualisasi diri kaum muda untuk memajukan negeri ini tidak hanya terbatas di dunia politik saja, tetapi bisa juga di bidang lain seperti dunia usaha, seni, budaya, ataupun pendidikan.
Seorang Soekarno menjadi presiden pertama Republik Indonesia ketika usianya dibawah 50 tahun. Seorang Soeharto pun memimpin negeri ini ketika usianya di bawah 50 tahun. Terlepas dari sisi positif maupun negatif dari masa pemerintahan mereka, namun sejarah membuktikan mereka telah berkontribusi besar terhadap perjalanan negeri ini. Dan sejarah pun telah mencatat bahwa kedua tokoh ini sebelum menjadi presiden telah melalui berbagai macam proses yang mengasah kapasitas dan kompetensinya. Bahkan dalam skup yang lebih kecil, pasangan HADE pun sebelum sebelum memenangkan Pilkada Jabar pun telah berproses di partai politik. Pelajaran terpenting bagi kaum muda masa kini adalah bagaimana sebelum menjadi pemimpin mereka harus berproses untuk mengasah kapasitas dan kompetensinya.